Cerita Sex 2015 Ibu Kepala Sekolah hobby Ngentot

Cerita Sex 2015 Ibu Kepala Sekolah hobby Ngentot

Posted on
Cerita Sex 2015 Ibu Kepala Sekolah hobby Ngentot – Selama dua bulan KKN, rasanya hidup penuh penderitaan.  Tetapi setelah POSKO itu mengalami perubahan “iklim” dari iklim “ KKN” menjadi iklim “ KLN ” penderitaan yang berat itu seperti tak terasa. KKN semua sudah tau artinya, sedangkan KLN apalagi kalau bukan berarti “kelonan” Jika diterjemahkan secara bebas artinya tidur bersama. Sebelumnya para mahasiswa berharap KKN itu segera berakhir dan pulang ke Semarang bertemu keluarga, tetapi setelah berganti “iklim”, para mahasiswa ingin KKN itu bisa berlangsung lebih lama, kalau bisa diperpanjang satu atau dua bulan.
Cerita Sex 2015 Ibu Kepala Sekolah hobby Ngentot Cerita Sex Dewasa SedarahCerita Sex 2015 Ibu Kepala Sekolah hobby Ngentot – Minggu terakhir di bumi Bonomerto diliputi suasana bulan madu.      Suasana penuh kemesraan dan kasih sayang.   Sudah menjadi pemandangan biasa bila malam hari, Kang Ponijan dipijit oleh Bu Etik. Tepatnya saling memijat. Joko dengan setia malam-malam mengantar Yuni ke sendang untuk pipis, padahal biasanya cukup pipis di belakang rumah. Endah atau Duwik sekarang tidak malu-malu berganti pakaian di depan kita para cowok, bahkan sering minta tolong Joko, atau aku untuk mengancingkan kait beha. Tetapi yang luar biasa adalah keberanian Bu Etik memelopori acara “swinger” yaitu pergantian pasangan tidur. Sehingga Joko tidak selalu dengan Yuni. Begini kejadiannya:Malam hari sepulang dari acara peresmian penggunaaan jalan desa yang selesai di aspal, Joko memboncengkan Bu Etik dengan motor Bu Etik..  Itung-itung “memerawani” atau “nganyari” jalan baru Memang, ini pertama kali kita memakai motor dalam kegiatan KKN. Sebelum jalan itu diaspal. kondisi jalan sangat buruk, motor para mahasiswa KKN hanya dititipkan di rumah Pak Lurah.
Cerita Sex 2015 Ibu Kepala Sekolah hobby Ngentot – Joko mengendarai Vario Bu Etik dengan kencang, lampu menyala terang. Jalan yang semula tampak putih dan berdebu, malam itu tampak hitam mulus. Motor melaju tanpa goncangan sedikit pun.  Mereka berdua tiba di Posko dengan cepat. Yang lain masih jalan kaki, karena males ambil sepeda motor di kelurahan. Bu Etik memang sudah berencana jauh-jauh hari, mau menjadi orang yang pertama kali merasakan mulusnya jalan baru itu, maka sebelum peresmian sudah mengambil motornya di rumah Pak Lurah. Tiba di Posko, masih sepi. Begitu turun dari motor, Joko langsung buka celana dan kencing di halaman rumah, rupanya Joko sudah lama menahan kebelet pipisnya selama acara peresmian tadi. Dia buka celana di depan Bu Etik. Joko membelakangi jalan, mengencingi pohon kelapa di depan rumah. Bu Etik tentu saja bisa melihat “pancuran” milik Joko dengan jelas. “Joko ki ……ngawur” Bu Etik protes, padahal sebenarnya dia horny “ Kalau ada penduduk yang lewat apa nggak malu?”“Halah,….. gelap saja kok Bu. Paling-paling yang liat hanya Bu Etik” santai dan cuek Joko terus memegangi adik kecilnya “menyirami” pohon kelapa.  “Halah barang jelek gitu dipamerke…….. barang kayak begitu aja apa bagusnya…” Bu Etik pura-pura cuek, memutar badan menghadap ke jalan, tetapi matanya melirik ke situ, “Busyet, panjang bener tongkol anak ini.” kata Bu Etik dalam hati.
Cerita Sex 2015 Ibu Kepala Sekolah hobby Ngentot – “Lama bener kencingnya,” “Yak…ampuuuuunnn… kamu makan pete berapa kilo…baunya……wuuekk…” Tak tahan baunya Bu Etik masuk rumah dan keluar lagi…….. membawa seember air di siramkan ke pohon kelapa. Joko terkejut, celananya basah. Joko marah-marah. Tetapi Bu Etik malah tertawa geli. Tanpa memasukkan kendaraan lebih dulu, Joko masuk rumah yang masih gelap itu hanya diterangi korek api yang yang dinyalakan sesaat. Dia bermaksud mengganti celana yang basah itu. Untuk membantu Joko, Bu Etik menghidupkan mesin motornya dan menyalakan lampunya, kemudian memasukkan sendiri motornya. Suasana gelap menjadi terang oleh cahaya motor. Motor masuk rumah dengan sinar yang terang, Posko yang gelap itu menjadi terang . Sinarnya sengaja diarahkan ke Penis Joko.Di saat itulah Bu Etik melihat Joko tak bercelana sibuk mencari sarung dengan “belalai” terayun-ayun “Dalam keadaan biasa saja, sudah begitu panjang, kalau sedang tegang… iih…..”membatin Bu Etik terkagum-kagum  melihat Penis Joko. Karena gelap dia tidak segera menemukan sarung atau celana pendek. Joko kembali marah-marah, tetapi Bu Etik malah tertawa geli melihat keadaan Joko. Dengan lampu itu, Bu Etik turun membantu mencarikan sarungnya . Setelah ditemukan tiidak segera diberikan, sengaja Bu Etik menggoda Joko. sarung itu disembunyikan di balik badannya. Joko datang meminta, dan Bu Etik terus mundur menjauh. “Bu, jangan bercanda, ah. Nanti keburu yang lain datang…..sini, dong Bu!” Joko terus mendekat.“Sini, aku yang pakaikan. Kasihan, tuh…kedinginan adik keclmu.” Bu Etik memasukkan sarung di kepala Joko. Ketika gulungan sarung itu menyentuh Penis Joko dan nyangkut di situ Bu Etik tanpa ragu-ragu memegang kemaluan Joko yang lumayan gede itu. “Ooo,…….anak nakal. Kamu harus dihukum, bikin pesing halaman.” Ditariknya sedikit Penis Joko dengan gemas.“Adoooo….. putus nanti, Bu.” Joko berteriak kesakitan. Bu Etik melepaskan benda kenyal itu dan segera membaui tangannya … …nyengir, ”Ih…….jorok……pesing banget……. Sini…… harus dicuci bersih!”Bu Etik mengambil sisa air di ember. Dimandikannya “burung “ Joko. Yang punya burung senyum-senyum senang. Dipegang jari-jari lentik wanita cantik, burung itu cepat bangun. Diguyur lagi, dielus lagi. Hanya dalam hitungan detik penis Joko sudah berubah memanjang dan membesar. Kemerah-merahan dan tampak perkasa. Di bawah terangnya cahaya motor, otot-otot hijau yang bertonjolan itu makin menggoda dan membuat Bu Etik bernafsu. Masih diterangi cahaya motor, Bu Etik tak tahan lagi untuk melahap lontong sumber kenikmatan itu. Sarung itu akhirnya mlorot ke tanah yang becek tanpa dihiraukan oleh yang punya. Joko sedang merem –melek merasakan kenikmatan luar biasa disepong mulut mungil Ibu Kepala Sekolah. Karena bau asap dari sepeda motor semakin menyesakkan, Bu Etik cepat-cepat memutar kunci kontak ,”Klik.” . Suasana berubah gelap. Pikiran dua insan itu juga sudah gelap. Joko tak sabar segera memetik “pepaya” Bu Etik yang bulat dan putih. Sekarang Joko bisa menyentuh bukit kembar yang indah ini. Tadi pagi, dia hanya bisa melihat Ponijan dengan rakus mengisap dan merabai dada yang putih dan empuk ini. Suasana memang gelap, tapi fantasi Joko sangat terang membayangkan penampakan Bu Etik. Lebar telapak tangan Joko tak cukup untuk meremas payudara Bu Etik yang jauh lebih besar daripada milik Yuni. Aktifitas Joko di dada Bu Etik menjadi lebih leluasa, karena Bu Etik membantu dengan membuka sendiri baju dan bra hitamnya. Sekarang dua daging bulat itu menggelayut bebas. Joko mengisap dan meremas keduanya bergantian. Pintu Poskomasih terbuka, mereka masih berdiri. Lampu minyak belum sempat dinyalakan. Dua makhuk yang sedang berenang di lautan nafsu itu tidak peduli. Gelap dan sepi, hanya terdengar dengusan nafas dua manusia berpacu dalam gelora nafsu. “Ssssssss……… isap terus Jok…….sssss……… mana tongkolmu cah bagus……..ouw……” Bu Etik mengerang dan mendesis sambil tangannya aktif mencari di mana tongkat Joko berada. Oentungan oanjang itu teracung-acung menyentuh paha Bu Etik. Akhirnya tangan Bu Etik dapat menangkap tongkat panas itu. Di pijit-pijit dengan gemas otot yang berdenyut-denyut itu. Bibir Joko mencari bibir Bu Etik, lalu keduanya berpagutan bagaikan sepasang kekasih yang lama tidak bertemu. Dengus nafas mereka menyatu, Bu Etik merasakan dadanya diremas Joko. Joko menikmati belaian jemari lentik Bu Etik di kemaluannya. Posko yang gelap itu menjadi saksi sepasang mahasiswa beda gender beda usia sedang mereguk kenikmatan terlarang di Posko mesum itu. Joko jauh lebih muda daripada Bu Etik. Tetapi apa mereka ……………… peduli? Angin malam yang dingin masuk melalui pintu yang terbuka, tetapi mereka tidak menutupnya malah masuk kamar bergumul memuaskan gelombang birahi yang menggelegak.Karena aku dan rombongan berjalan kaki, setengah jam baru mencapai Posko. Dari jalan, Marsitah melihat ada yang aneh di Posko. Pintu terbuka, tetapi dalam rumah masih gelap. Lampu jalan juga belum dinyalakan. Marsitah menaruh jarinya di bibir, menahan langkah kami. Dia mendekati Posko berjingkat-jingkat. Aku mengikutinya dan minta yang lain untuk berhenti di jalan. Marsitah melepas sepatu, dengan kaki telanjang dia mengendap mendekati pintu, aku di belakang Marsitah masuk pintu yang terbuka lebar. Bau asap motor menyengat. Sayup-sayup kudengar dengus nafas berat dan rintihan dari dalam. Marsitah menggandeng tanganku mendekati kamar. Suara dengusan nafas kian jelas terdengar. Rintihan Bu Etik terdengar manja sekali. “Jokoooo…….. terusss……tongkolmu guedeeeene tenan Jok …….. aahhh………enak …..mmhh……” Marsitah berhenti. Dia menahan nafas. Aku ikut berhenti, juga menahan napas. Marsitah merapatkan tubuhnya ke tembok, aku terus menempel tubuhnya merapat ke dinding. Suasana mulai diliputi hawa “beracun” Marsitah merasakan hal yang sama. Dengusan nafas Joko kian terdengar jelas. Sekali sekali Bu Etik menjerit kecil. Aku makin mepet ke tubuh Marsitah. Sama-sama konsentrasi mendengarkan kegiatan rahasia di kegelapan itu. Semakin berkonsentrasi, semakin meresaplah racun itu merasuk otakku dan otak cewek yang menempel hangat di depanku. Makin lama tubuh Marsitah semakin panas. Perambatan panas itu mengakibatkan tubuhku seperti diselimuti kantong tidur yang nyaman. Bau wangi campur keringat cewek ini merangsang sekali. Kucium belakang telinga Marsitah. Dia mengelinjang kegelian. mau menghindar tapi tubuhnya kepepet. Mau protes tapi takut kedengaran yang ada di dalam. Kuraba dan kuelus pahanya. Marsitah diam menggigit bibir melawan rangsangan yang menjalar di sepanjang pahanya. Tanganku merayap naik ke pangkal pahanya. Kuelus-elus celana dalamnya. Kutekan dan kucolokkan jari-jariku di celah memanjang yang membelah Vaginanya. Walaupun terhalang celana dalamnya, tusukan itu sudah mampu membikin celananya basah. Sayang usahaku terpaksa kuhentikan saat aku mendengar langkah-langkah mendekat. Ponijan dan tiga cewek di luar tak sabar menanti dan ingin tahu apa yang terjadi di dalam Posko yang gelap dan misterius itu. Aku bermaksud keluar, namun Marsitah malah memeluk tubuhku dari belakang. Mesin sex cewek Temanggung ini sudah terlanjur aku starter, tak mungkin mau diam dan berhenti. Kini gentian tangan Marsitah masuk ke celana dalamku dan merenggut keluar batang kemaluanku yang sudah mengeras sejak tadi.Penuh nafsu Marisitah mengurut-urut penisku. Aku sebenarnya merasa keenakan tapi hatiku semakin was-was. Suara langkah di luar beringsut-ingsut mendekat menyadarkan Marsitah untuk menghentikan aktifitasnya.. Rupanya Joko dan Bu Etik sudah sampai pada puncaknya juga, terdengar lenguhan Bu Etik yang panjang dan desah kepuasan Joko melepaskan peluru-peluru terakhirnya. Marsitah terdiam “menikmati” klimax pertempuran di dalam kamar dengan tetap memegang penisku yang berkedut-kedut. Lalu berbisik di telingaku ,”Sudah…selesai!” Aku mengangguk. Dia melepaskan penisku dan menggandengku berjalan keluar. Di pintu berpapasan dengan Yuni, “Bruk…grobyag!” tangan Yuni menggapai daun pintu untuk menahan tubuhnya yang hampir jatuh karena bertabrakan dengan Marsitah. Suasana jadi ribut, Yuni dan Marsitah malah kertawa cekikikan. Joko keluar kamar sambil menyalakan korek api. “Ada apa?” Yuni bangkit dibantu Marsitah tapi begitu melihat Joko yang datang membawa korek api yang menyala, dia terpekik,” Iihhh……” Aku dan Marsitah menoleh dan ikut kaget bercampur geli melihat Joko pakai baju komplit tapi nggak pakai celana. “Ups…..asssuu…aku lali” lalu lari ke dalam mengambil sarungnya. Pecahlah tawa kita. Apalagi ketika Ponijan terpelesek tanah becek dekat motor, “Blegg!” Ponijam menyumpah-nyumpah,”Sialan……siapa bikin comberan di dalam rumah?” Tak habis-habis kita tertawa. Suasana gelap sudah menjadi terang karena Marsitah sudah menyalakan lampu mInyak. Endah juga sudah menyalakan lampu jalan. Ponijan memindah motor Bu Etik agar tidak menghalangi jalan. Semua berkumpul di kamar tamu, kecuali Bu Etik. Joko duduk memeluk lutut berkerudung kain sarung di ujung tikar sebalah kanan. Diam tak mampu bicara, mati kutu diserang dari berbagai arah dengan ejekan dan sindiran. Dia hanya bisa cengar-cengir. Suasana riuh tiba-tiba terdiam, ketika Bu Etik keluar dari kamar dengan rambut awut-awutan. Hebatnya, Ibu Kepala Sekolah satu ini pandai menguasai keadaan, tahu dirinya bakal jadi bahan canda, Bu Etik masih bisa berakting dengan meyakinkan,“Tidak sopan! Baru ada pelajaran penting, malah ribut! Ayo tidur, sudah malam!”“Maaf, Bu, saya tidak tahu kok, Bu. Jangan disetrap, lho, Bu!” Endah pura-pura takut.“Bu Guru, Bu Guru……tadi ada yang ngintip, lho. Disetrap saja, Bu” Duwik menunjuk Marsitah. Yang ditunjuk mendelik pada Duwik, tapi tersenyum pada Bu Etik,”Aku tadi bermaksud mau nolong Ibu, tadi kok menjerit, apa Joko nakal, Bu?” Semua tertawa. Kecuali……Yuni . Yuni diam dan cemberut. Agaknya cewek hitam manis ini tidak rela “kekasih”nya dipakai Bu Etik. Joko tanggap terhadap situasi, segera memeluk Yuni dan mendekap erat. Yuni mula-mula menolak, menunjukkan sikap tidak senangnya Joko tidur dengan Bu Etik. Tapi Joko terus mendekap erat Yuni tanpa sungkan-sungkandi lihat seisi Posko. Tak ada lagi yang tertawa, semua terdiam serius. Ternyata Yuni tak bisa bercanda. Dia jealous. Semua terdiam mendengar isak tangis Yuni yang tertahan. Bu Etik jadi merasa bersalah namun hanya bisa menghela nafas panjang. Terus mau apa? Endah mendekati Yuni mencoba memberi pengertian. Tetapi Yuni tidak menanggapi kata-kata Endah. malah tidur dan menutup mukanya dengan bantal. Joko punya cara khusus, dia terus mencumbui Yuni, dengan lembut bantal yang menutupi muka Yuni dibuka, kepala Yuni diangkat untuk diberi bantal, sangat lembut dan romantis. Dibelai rambutnya penuh kemesraan, sambil berciuman. Lembut sekali Joko mencumbu Yuni. Sekarang Endah hanya jadi penonton yang paling dekat drama indah itu. Ciuman Joko turun ke leher Yuni. Cewek hitam manis ini mulai hanyut dalam aliran hipnotis asmara. Duwik dan Endah ikut terhanyut dalam suasana syahdu dua insan itu. Tangisan Yuni sudah berubah menjadi desahan desahan mesra. Duwik tak terasa mengikuti proses foreplay Joko terhadap Yuni. Duwik merabai sendiri dadanya. Dibukanya bajunya dan dirabanya sendiri payudaranya yang super itu. Joko sudah membuka bagian atas tubuh Yuni, payudara Yuni yang kecil tapi kenceng itu sudah dilumat habis oleh bapak beranak satu yang berkulit kuning bersih itu. Endah mengagumi bulu-bulu dada Joko dan seluruh rambut di sekujur tubuh Joko. dia ingin sekali menyentuh rambut keriting di dada Joko yang menggemaskan itu tetapi terhalang okeh tubuh Yuni. Maka Endah pindah posisi ke belakang Joko. Di rabainya dada Joko dari belakang. Yuni tak sempat lagi melihat Endah karena matanya merem merasakan nikmatnya disepong susunya oleh Joko. Yang paling cerdik Duwik, posisi yang paling bagus adalah berada di bawah pantat Joko. Duwik memanfaatkan kesempatan, sebelum penis itu dipakai yang punya, Duwik sempat menikmati tongkat panjang dan hangat itu dengan bibirnya. Dengan menungging, kepala Duwik maju mundur mengurut-urut batang kemaluan Joko dengan penuh semangat. Pantatnya yang putih terakspose dengan nyata. Lenguhan dan dengus penuh nafsu keempat mahasiswa yg khilaf memenuhi Posko mesum menyatu menjadi sebuah simfoni yang indah. Ssss….Oooo….ssss….adduuu….sshhh…terusss…. aaahhhh…. Ponijan sangat terangsang melihat pantat Duwik yang putih mulus. Dengan penis hitam besar yang teracung, Ponijan berlutut mendekati Duwik. Dari belakang tampak jelas, lubang kenikmatan Duwik menganga dan basah.Celdamnya sudah melesak masuk “parit” menampilkan bulu-bulu kemaluan berwarna pirang yang bertebaran dilereng-lereng tempiknya yang putih. Ponijan sudah tak kuat lagi menahan diri. Tak perlu lama-lama, segera terdengar lenguhan Duwik yang “menangis memilukan” terkena tusukan tongkat wasiat Ponijan yang hitam dan berukuran jumbo itu. Duwik megap-megap disodok-sodok tongki Ponijan. Tak mampu lagi dia nyepong penis Joko. Wajah Duwik mengekspresikan kenikmatan luar biasa. Aku sangat terangsang melihat penis Ponijan yang hitam itu membelah Vagina Duwik yang putih. Apalagi Ponijan kini menyingkap rok Duwik sehingga keseluruhan pahanya yang putih mulus itu tampak berkilau di keremangan cahaya lampu minyak. Glek, tak terasa aku menelan ludah.Saatnya untuk “eksekusi” Marsitah, aku menoleh ke samping kiri, adduuuh…kenapa Marsitah berselimut rapat begini. Apakah dia dan Bu Etik tidak mengikuti “film bokep” di ruang tamu ini? Dua wanita ini tak ada reaksi, tidur dengan tenang…. aneh… Aku jadi gelisah… Marsitah tidur membelakangiku. Panasnya udara mesum di kamar itu membakar hangus syarafku, tetapi cewek idamanku, mimpiku setiap malam, malah tenang-tenang meringkuk dalam selimut. Padahal baru sejam yang lalu cewek ini mendekapku penuh nafsu. Oooh….. Marsitah. Kuhimpun keberanianku untu menumpangkan tangan kananku di pahanya. Wow…… hangat sekali. Kutelusuri pelan dan lembut kehalusankulit di balik selimut itu. Tak ada reaksi. Aku beringsut maju semakin mendekat Inya, belum sampai tersntuh pun sudah terasa pancaran hangat tubuhnya. Bau keringatnya yang khas menusuk hidung, berjalan sekian jauh membuat tubuhnya berkeringat. Tapi bau itu bagiku harum dan merangsang. Gelora rangsangan birahi membakar dan menghilangkan segala pertimbangan, mematikan rasa takut. Selimut di kakinya kuangkat dan kugeser. Tampak betisnya yang bersih dan putih. Kutarik terus ke atas …… pahanya yang mulus dan halus …terus naik…..aaah…..celana dalamnya …aahhh….. basaaaah…. cairan bening mengalir turun dari kemaluannya. Oo….. kasihan sekali cah ayu….sudah horny sekali…tapi Marsitah menahan diri…….biasa cewek suka jaim. Tanpa pemanasan dan segala ritual yg bikin ribet, kucolokkan jariku ke lubang becek itu….hangaaaat sekali. Marsitah sudah lebih dari siap untuk penetrasi. Tanpa kuceritakan bagaimana aku melepas celdamku , kudorong pelan rudalku yang sudah siap tempur sejak jaman Jepang, menembus lubang becek cewek jaim ini.“Ssssss……mmmmmm………..” mendesis mulut Marsitah merasakan ada sesuatu menembus tubuhnya. Mengganjal tapi enak. Besar dan panjang tapi….terasa nyaman. Kusingkap selimut itu sehingga keseluruhan pantat Marsitah yang bulat padat dan putih itu terpampang jelas. Kutarik batangku sehingga lipatan lipatan daging di Vagina Marsitah ikut keluar, kudorong penisku masuk, ikut masuk. Crep….crep…..crep…. pelan tapi pasti. Makin dalam tusukanku, makin jelas Marsitah mendesah. Tidak bisa jaim lagi. Marsittah mulai bereaksi. Pantatnya bergoyang. “Pak……sing jeruuu…… asssuuuuu…..uenak tenan…..” akhirnya sifat aslinya muncul. Cewek ganas. Dari tidur posisi miring, sekarang nungging, tetap kutusuk dari belakang agak ke atas. Lubang itu terasa sangat sempit.“Oooo……tongkolmu…..Pak…..hhh…..mmhh…..terusss…terusss…….keras banget siihh…..wuuuhhhh..” Tusukanku tetap cepat dan mantap. Cepat dan dalam. Setiap menyentuh dinding terdalam, semua perbendaharaan kata-kata kotor berlompatan keluar. Gerakan Marsitah semakin liar. Pantatnya disodok-sodokkan mengimbangi gerakanku dengan berlawanan arah. Tiba-tiba dia bangun, sehingga penisku terlepas dengan paksa “Plop!” lalu merangkul pundakku dan “membanting” tubuhku hingga aku tertelentang. Agaknya ini posisi favorot dia. Aku ingat kemarin malem Marsitah “mengeksekusi Kang Ponijan yang lagi tidur dengan posisi begini. Bagaikan penunggang kuda yang kesetanan dia memacu “kuda” dengan irama cepat dan segala macam “kata mutiara” dari neraka keluar. Kegilaan Marsitah ditambah lagi dengan hadirnya Bu Etik, yang “terkena racun” melihat Marsitah kesetanan. Beliau sudah bugil total! Mengangkang di dadaku. memiawnya yang dulu pernah aku obok-obok itu kini diarahkan ke mulutku. Jembutnya yang rimbun menyerodok hidungku. Bau khas cairan wanita menyengat. Lidahku kujulurkan untuk menusuk belahan Vagina “Camelia Malik” yang sedang khilaf ini. “Ooh….oooh…..sssshh….sssh! bagaikan simfoni suara desahan, dengus dan teriakan itu memenuhi Posko mesum malam itu.Kutoleh ke kanan, Endah sedang dihajar oleh Joko. Kepalanya oleng ke kiri dan ke kanan. Endah menangis atau merengek manja menandai betapa nikmatnya disetubuhi cowok ganteng bertubuh putih, dan berambut lebat sepanjang tubuhnya ini. Endah menggoyang pantatnya dan memutar-mutarnya. lebih gila lagi, Kang Ponijan semakin meraja lela. Yuni diembat juga. Muka Yuni mencium bantal dan pantatnya yang menungging disosok dengan tongkat hitam yang terkenal “sakti” yang bisa bikin wanita jenis apa pun ketagihan. Sudah semua wanita di Posko ini merasakan rudal Kang Ponijan. Dari segi artistic, wajah Ponijan bisa dibilang out of date. Berantakan, pesek dan gigi sedikit tongos. Tapi, Bro…. badan besar, dada bidang dan yang paling disukai cewek….tongkole guwede tenan. Super jumbo. Bu Etik terus memepetkan bibir bawahnya ke mulutku sambil meremas-remas sendiri bukit kembarnya. Supaya lebih cepat puas, jari-jariku kumasukkan ke lubang basah itu. Kutelusuri dinding rahimnya dengan ujung-ujung jariku. Bu Eti mengerang semakin hebat. Sementara kurasakan gerakan Marsitah tak berkurang gencarnya. Cewek ayu yang binal ini ternyata sangat tangguh. Buah dadanya yang putih dan mancung itu terayun-ayun mengikuti gerakan tubuhnya yang naik turun. Lebih gila lagi Marsitah mendorong Bu Etik menyingkir dari atas tubuhku, dan Marsitah langsung rebah di atas dadaku. Bibirku disergap dan dilumat habis-habisan. Kulitnya yang putih semakin mengkilap karena dibasahi keringat. Bu Etik yang sudah mendapat orgasme terkapar di sampingku, tapi tidak berapa lama, Ponijan datang dan……edan tenan…… Ponijan masih kuat menaiki tubuh Bu Etik. Luar biasa. Akselerasi gerkan Marsitah bertambah, terus bertambah dan …….luberlah cairan hangat membasahi kepala helmku dan luber ke perutku. Tidak dibiarkan menganggur, Marsitah langsung mengulum peisku yang masih tegang dan basah. Jari lentiknya ikut aktif mengurut-urut. Tidak kuat menahan itu, aku bangun dan Marsitah kutelentangkan di tikar. Pahanya yang mulus dan putih kupentang lebar-lebar. memiawnya yang menganga berwarna merh kehitaman karena ditutup dengan rambut yang rapi, Pelan-pelan kuturunkan rudalku dan dengan mantap ketelusupkan ke lubang kenikmatan itu. Karena tidak begitu basah, aku mengoralnya untuk sekedar membasahinya.. Kusentil-sentil daging kecil itilnya dengan lidahku. Tangan Marsitah meremas-remas selimut menahan rasa nikmat . Lidahku masuk dan menari-nari di dalam sana. Marsitah mengangkat-angkat pantatnya keenakan. Setelah cukup basah, kumasukkan lagi rudalku. Wuuuiiih….. Marsitah…..goyanganmu tak pernah ada matinya. Marsitah menatap penuh nafsu, Pak….aku…mau keluar…lagi…bareng yo Pak?” .Aku mengimbangi dengan mempercepat tusukan di luabangny yang terasa menggigit dan memijit batangku. Pijitan bibir nikmat itu memberi setrum ribuan kilowatt, makin lama makin hebat hingga tak terbendung lagi. “Siiittttaaaah….ooohhhh……”Harus kuakui, kehebatan Kang Ponijan. Aku sudah berakhir dan terkapar loyo di sekitar Marsitah.Tetapi Kang Ponijan masih tetap semangat menusuk lubang kenikmatan Bu Etik. Wanita luar biasa ini, dalam semalam bisa menghabiskan tiga sampai empat lelaki agaknya. Tubuhnya bugil total. Kini Ponijan melempar semua pakaiannya. Hitam di atas putih. Sungguh indah. Tubuh yang sintal dan putih itu menggeliat-geliat seperti tarian erotic. Mulut Bu Etik tak henti mendesis-desis kepedesan. Bibir tebal Ponijan melumat mulut mungil Bu Etik. Sunggu pasangan yang kontras. Dengusan nafas Ponjan mirip sekali dengan dengus kuda. Hossss….hosss…… dan ditingkah lenguhan Bu Etik….ooohh…ssss….ooooghh…ssss…. Tangan Ponijan tak henti meremas-remas payudaranya yang besar dan bulat. Ini pergulatan terakhir. Semua sudah terkapar kelelahan setelah mereguk bersama kenikmatan mesum dan terlarang. Ponijan menemukan lawan yang sepadan, sama tangguhnya. Akhirnya keduanya sampai pada puncaknya, Bu Etik melenguh hebat dan Ponijan menyemburkan keluar spermanya. Crot…..jauh ke muka Bu Etik. Crooot… basah kuyup wajah Bu Etik penuh cairan putih…..indah sekali. Bu Etik menjilat yang ada di sekitar mulutnya. Hidung mancungnya dihiasi krim putih bening menjadikan wajahnya cantik menggairahkan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana seandainya suaminya di Blora tahu???? Mata Bu Etik terpejam penuh kenikmatan. Ponijan terkapar di samping Bu Etik. Hawa dingin kecamatan Suruh tak terasa lagi. Yang terasa hanya kehangatan dan kemesraan. Posko KKN sedang dilanda musim KLN yang mesum, yang nikmat dan yang menggairahkan. Sampai selesainya KKN dan pulang ke Semarang, kita saling bertukar celana dalam atau kaos dalam yang penuh dengan sperma dan cairan kenikmatan wanita. Aku dan Joko masih sama-sama penasaran. Joko belum “merasai” Marsitah, dan aku belum pernah mencoba Yuni. Paling hebat memang Kang Ponijan. Edan tenan wong kuwi.

Keyword Cerita Dewasa

  • cerita swinger
  • cerita sex swinger
  • cerita ngemtot
  • Hobby ngentot
  • cerita ngentot swinger
  • cerita ibu ngentot
  • cerita seks swinger
  • cerita sex ibu kepala sekolah
  • ngentot kepala sekolah
  • cerita seks sekolah

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *