Cerita Ngentot 2016 Ngecrot Vagina Wanita Setengah Baya

Cerita Ngentot 2016 Ngecrot Vagina Wanita Setengah Baya

Posted on

Cerita Ngentot 2016 Ngecrot Vagina Wanita Setengah Baya | Pekerjaanku yang mana harus aku diselesaikan di luar kota aku bekerja diperusahaan export dan diangakt manger dari bulan kemarin,maka dari itu tugasku semakin kencang, diumurku yang muda 29 tahun ini aku sudah berhasil memimpikan jabatan ini. Aku berterimakasih kepada kedua orangtuaku yang selalu mendoakanku.

Cerita Ngentot 2016 Ngecrot Vagina Wanita Setengah Baya Cerita Sex Dewasa SedarahCerita Ngentot 2016 Ngecrot Vagina Wanita Setengah Baya | Hari Sabtu aku sampai dikota Semarang yang mana udara cuacanya juga sama panasnya seperti Jakarta, aku diberi fasilitas rumah berukuran tipe 45, disini aku aku bisa mentargetkan 6 bulan pekerjaanku harus selesai, setelah dua minggu aku merasa kesusahan atau keberatan karena pekerjaan rumah juga aku selesaikan setiap harinya.

Maka dari itu aku berencana unutk mencari pembantu rumah tangga untuk membantu aku, aku mencari jasa biro tenaga kerja di kota Semarang, kemudia sore hari datanglah wanita yang berumuran 30 an tahun, Namanya Watiaty asal dari Magelang dan sudah mempunyai anak 2 yang tinggal nenknya di desa.

“Anaknya ditinggal dengan neneknya tidak apa-apa, Mbak?” tanyaku.

“Tidak, pak. Mereka kan sudah besar-besar, sudah SMP dan SD kelas 6,” jawabnya.

“Lalu suami Mbak Wati dimana?”

“Sudah meninggal tiga tahun lalu karena tbc, pak.”

“Ooo.. pernah kerja di mana saja, Mbak?”

“Ikut rumah tangga, tapi berhenti karena saya tidak kuat harus kerja terus dari pagi sampai malam, maklum keluarga itu anaknya banyak dan masih kecil-kecil.. Kalau di sini kan katanya hanya bapak sendiri yang tinggal, jadi pekerjaannya tidak berat sekali.”

Dengan janji akan kucoba dulu selama sebulan, jadilah Mbak Wati mulai kerja hari itu juga dan tinggal bersamaku.

Dia kuberi satu kamar, karena memang rumahku hanya punya dua kamar. Tugas rutinnya, kalau pagi sebelum aku ke kantor membersihkan kamarku dan menyiapkan sarapanku. Setelah aku ke kantor barulah ruangan lain, nyuci, belanja, masak dst.

Dia kubuatkan kunci duplikat untuk keluar masuk rumah dan pagar depan. Setelah seminggu tinggal bersama, kami bertambah akrab. Kalau di rumah dan tidak ada tamu dia kusuruh memanggilku “Mas” bukan “bapak” karena usianya tua dia.

Beruntung dia jujur dan pintar masak sehingga setiap pagi dan malam hari aku dapat makan di rumah, tidak seperti dulu selalu jajan ke luar. Waktu makan malam Mbak Wati biasanya juga kuajak makan semeja denganku.http://www.ceritangentot.me/

 

Cerita Ngentot 2016 Ngecrot Vagina Wanita Setengah Baya | Biasanya, selesai cuci piring dia nonton TV. Duduk di permadani yang kugelar di depan pesawat. Kalau tidak ada kerjaan yang harus dilembur aku pun ikut nonton TV. Aku suka nonton TV sambil tiduran di permadani, sampai-sampai ketiduran dan seringkali dibangunkan Mbak Wati supaya pindah ke kamar.

Suhu udara Semarang yang tinggi sering membuat libidoku jadi cepat tinggi juga. Lebih lagi hanya tinggal berdua dengan Mbak Wati dan setiap hari menatap liku-liku tubuh semoknya, terutama kalau dia pakai daster di atas paha.

(Kalau digambarkan bodynya sih mirip-mirip Yenny Farida waktu jadi artis dulu). Maka lalu kupikir-pikir rencana terbaik untuk bisa mendekap tubuhnya. Bisa saja sih aku tembak langsung memperkosanya toh dia nggak bakal melawan majikan, tapi aku bukan orang jenis itu. Menikmatinya perlahan-lahan tentu lebih memberi kepuasan daripada langsung tembak dan cuma dapat nikmat sesaat.

“Mbak Wati bisa mijit nggak?” tanyaku ketika suatu malam kami nonton TV bareng.

Dia duduk dan aku tiduran di permadani.

“Kalau asal-asalan sih bisa, Mas,” jawabnya lugu.

“Nggak apa-apa, Mbak. Ini lho, punggungku kaku banget.. Seharian duduk terus sampai nggak sempat makan siang. “Tolong dipijat ya, Mbak..” sambil aku tengkurap.

Cerita Ngentot 2016 Ngecrot Vagina Wanita Setengah Baya | Mbak Wati pun bersimpuh di sebelahku. Tangannya mulai memijat punggungku tapi matanya tetap mengikuti sinetron di TV. Uuhh.. nikmatnya disentuh wanita ini. Mata kupejamkan, menikmati. Saat itu aku sengaja tidak pakai CD (celana dalam) dan hanya pakai celana olahraga longgar.

“Mijatnya sampai kaki ya, Mbak,” pintaku ketika layar TV menayangkan iklan.

“Ya, Mas,” lalu pijatan Mbak Wati mulai menuruni pinggangku, terus ke pantat.

“Tekan lebih keras, Mbak,” pintaku lagi dan Mbak Wati pun menekan pantatku lebih keras.

Penisku jadi tergencet ke permadani, nikmat, greng dan semakin.. berkembang. Aku tak tahu apakah Mbak Wati merasakan kalau aku tak pakai CD atau tidak. Tangannya terus meluncur ke pahaku, betis hingga telapak kaki. Cukup lama juga, hampir 30 menit.

“Sudah capai belum, Mbak?”

“Belum, Mas.”

“Kalau capai, sini gantian, Mbak kupijitin,” usulku sambil bangkit duduk.

“Nggak usah, Mas.”

“Nggak apa-apa, Mbak. Sekarang gantian Mbak Wati tengkurap,” setengah paksa dan merajuk seperti anak-anak kutarik tangannya dan mendorong badannya supaya telungkup.

“Ah, Mas ini, saya jadi malu..”

“Malu sama siapa, Mbak? Kan nggak ada orang lain?”

Agak canggung dia telungkup dan langsung kutekan dan kupijit punggungnya supaya lebih tiarap lagi. Kuremas-remas dan kupijit-pijit punggung dan pinggangnya.

“Kurang keras nggak, Mbak?”

“Cukup, Mas..” Sementara matanya sekarang sudah tidak lagi terlalu konsentrasi ke layar kaca. Kadang merem melek. Tanganku mencapai pantatnya yang tertutup daster. Kuremas, kutekan, kadang tanganku kusisipkan di antara pahanya hingga dasternya mencetak pantat gempal itu. Kusengaja berlama-lama mengolah pantatnya, toh dia diam saja.

“Pantat Mbak empuk lo..” godaku sambil sedikit kucubit.

“Ah, Mas ini bisa saja.. Mbak jadi malu ah, masak pembantu dipijitin juragannya.. Sudah ah, Mas..” pintanya.

Sambil berusaha berdiri.

“Sabar, Mbak, belum sampai ke bawah,” kataku sambil mendorongnya balik ke permadani.

“Aku masih kuat kok.”

Tanganku bergerak ke arah pahanya. Meremas-remas mulai di atas lutut yang tidak tertutup daster, lalu makin naik dan naik merambat ke balik dasternya. Mbak Wati mula-mula diam namun ketika tanganku makin tinggi memasuki dasternya ia jadi gelisah.

“Sudah, Mas..”

“Tenang saja, Mbak.. Biar capainya hilang,” sahutku sambil menempelkan bagian depan celanaku yang menonjol ke samping pahanya yang kanan sementara tanganku memijat sisi kiri pahanya. Sengaja kutekankan “tonjolan”ku.

Dan seolah tanpa sengaja kadang-kadang kulingkarkan jari tangan ke salah satu pahanya lalu kudorong ke atas hingga menyentuh bawah vaginanya. Tentu saja gerakanku masih di luar dasternya supaya ia tidak menolak. Ingin kulihat reaksinya. Dan yang terdengar hanya eh.. eh.. eh.. tiap kali tanganku mendorong ke atas.

“Sekarang balik, Mbak, biar depannya kupijat sekalian..”

“Cukup, Mas, nanti capai..”

“Nggak apa-apa, Mbak, nanti gantian Mbak Wati mijit aku lagi..”

Kudorong balik tubuhnya sampai telentang. Daster di bagian pahanya agak terangkat naik. Mula-mula betisnya kupijat lagi lalu tanganku merayap ke arah pahanya. Naik dan terus naik dan dasternya kusibak sedikit sedikit sampai kelihatan CD-nya.

“Mbak Wati pakai celana item ya?” gurauku sampai dia malu-malu.

“Saya jadi malu, Mas, kelihatan celananya..” sambil tangannya berusaha menurunkan dasternya lagi.

“Alaa.. yang penting kan nggak kelihatan isinya to, Mbak..” godaku lagi sambil menahan tangannya dan mengelus gundukan CD-nya dan membuat Mbak Wati menggelinjang.

Tangannya berusaha menepis tanganku. Melihat reaksinya yang tidak terlalu menolak, aku tambah berani. Dasternya makin kusingkap sehingga kedua pahanya yang besar mengkal terpampang di depanku.

Namun aku tidak terburu nafsu. Kusibakkan kedua belah paha itu ke kiri-kanan lalu aku duduk di sela-selanya. Kupijat-pijat pangkal paha sekitar selangkangannya sambil sesekali jariku nakal menelusupi CD-nya.

“Egh.. egh.. sudah Mas, nanti keterusan..” tolaknya lemah.

Tangannya berusaha menahan tanganku, tapi tubuhnya tak menunjukkan reaksi menolak malah tergial-gial setiap kali menanggapi pijitanku.

“Keterusan gimana, Mbak?” tanyaku pura-pura bodoh sambil memajukan posisi dudukku sehingga Penisku hampir menyentuh CD-nya. Dia diam saja sambil tetap memegangi tanganku supaya tidak keterusan.

“Ya deh, sekarang perutnya ya, Mbak..”

Tanganku meluncur ke arah perutnya sambil membungkuk di antara pahanya. Sambil memijat dan mengelus-elus perutnya, otomatis zakarku (yang masih terbungkus celana) menekan CD-nya. Merasa ada tekanan di CD-nya Mbak Wati segera bangun.

“Jangan Mas.. nanti keterusan.. Tidak baik..” lalu memegang tanganku dan setengah menariknya.

Kontan tubuhku malah tertarik maju dan menimpanya. Posisi zakarku tetap menekan selangkangannya sedang wajah kami berhadap-hadapan sampai hembusan nafasnya terasa.

“Jangan, Mas.. jangan..” pintanya lemah.

“Cuma begini saja, nggak apa-apa kan Mbak?” ujarku sambil mengecup pipinya.

“Aku janji, Mbak, kita hanya akan begini saja dan tidak sampai copot celana,” sambil kupandang matanya dan pelan kugeser bibirku menuju ke bibirnya.

Dia melengos tapi ketika kepalanya kupegangi dengan dua tangan jadi terdiam. Begitu pula ketika lidahku menelusuri relung-relung mulutnya dan bibir kami berciuman. Sesaat kemudian dia pun mulai merespons dengan hisapan-hisapannya pada lidah dan bibirku.

Targetku hari itu memang belum akan menyetubuhi Mbak Wati sampai telanjang. Karena itulah kami selanjutnya hanya berciuman dan berpelukan erat-erat, kutekan-tekankan pantatku. Bergulingan liar di atas permadani.

Kuremas-remas payudaranya yang montok mengkal di balik daster. Entah berapa jam kami begituan terus sampai akhirnya kantuk menyerang dan kami tertidur di permadani sampai pagi. Dan ketika bangun Mbak Wati jadi tersipu-sipu.

“Maaf ya, Mas,” bisiknya sambil memberesi diri.

Tapi tangannya kutarik sampai ia jatuh ke pelukanku lagi.

“Nggak apa-apa, Mbak. Aku suka kok tidur sambil pelukan kayak tadi. Tiap malam juga boleh kok..” candaku.

Mbak Wati melengos ketika melihat tonjolan besar di celanaku.

Sejak saat itu hubunganku dengan Mbak Wati semakin hangat saja. Aku bebas memeluk dan menciumnya kapan saja. Bagai istri sendiri. Dan terutama waktu tidur, kami jadi lebih suka tidur berdua.

Entah di kamarku, di kamarnya atau di atas permadani. Sengaja selama ini aku menahan diri untuk tidak memaksanya telanjang total dan berhubungan kelamin. Dengan berlama-lama menahan diri ini lebih indah dan nikmat rasanya, sama seperti kalau kita menyimpan makanan terenak untuk disantap paling akhir.

Hingga suatu malam di ranjangku yang besar kami saling berpelukan. Aku bertelanjang dada dan Mbak Wati pakai daster. Masih sekitar jam 9 waktu itu dan kami terus asyik berciuman, berpagutan, berpelukan erat-erat saling raba, pijat, remas.

Kuselusupkan tanganku di bawah dasternya lalu menariknya ke atas. Terus ke atas hingga pahanya menganga, perutnya terbuka dan akhirnya beha putihnya nampak menantang. Tanpa bicara dasternya terus kulepas lewat kepalanya.

“Jangan, Mas..” Mbak Wati menolak.

“Nggak apa-apa, Mbak, cuma dasternya kan..” rayuku.

Dia jadi melepaskan tanganku. Juga diam saja ketika aku terang-terangan membuka celana luarku hingga kami sekarang tinggal berpakaian dalam. Kembali tubuh gempal janda montok itu kugeluti, kuhisap-hisap puncak branya yang nampak kekecilan menampung teteknya. Mbak Wati mendesis-desis sambil meremasi rambut kepalaku dan menggapitkan pahanya kuat-kuat ke pahaku.

“Mbak Wati pingin kita telanjang?” tanyaku.

“Jangan, Mas. Pingin sih pingin.. tapi.. gimana ya..”

“Sudah berapa lama Mbak Wati tidak ngeseks?”

“Ya sejak suami Mbak meninggal.. kira-kira tiga tahun..”

“Pasti Mbak jadi sering masturbasi ya?”

“Kadang-kadang kalau sudah nggak tahan, Mas..”

“Kalau main dengan pria lain?”

“Belum pernah, Mas..”

“Masak sih, Mbak? masak nggak ada yang mau?”

“Bukan begitu, tapi aku yang nggak mau, Mas..”

“Kalau sama aku kok mau sih, Mbak?” godaku lagi.

“Ah, kan Mas yang mulai.. dan lagi, kita kan nggak sampai anu..”

“Anu apa, Mbak?”

“Ya itu.. telanjang gitu..”

“Sekarang kita telanjang ya, Mbak..”

“Eee.. kalau hamil gimana, Mas?”

“Aku pakai kondom deh..”

“Ng.. tapi itu kan dosa, Mas?”

“Kalau yang sekarang ini dosa nggak, Mbak?” tanyaku mentesnya.

“Eee.. sedikit, Mas,” jawabnya bingung.

Aku tersenyum mendengar jawaban mengambang itu dan kembali memeluk erat-erat tubuh sekalnya yang menggemaskan. Kuremas dan kucium-cium pembungkus teteknya. Ia memeluk punggungku lebih erat. Kuraba-raba belakang punggungnya mencari lalu melepas kaitan branya.

“Ja..jangan, Mas..” Bisiknya tanpa reaksi menolak dan kulanjutkan gerakanku.

Mbak Wati hanya melenguh kecil ketika branya kutarik dan kulemparkan entah kemana. Dua buah semangka segar itu langsung kukemut-kemut putingnya.

Kuhisap, kumasukkan mulut sebesar-besarnya, kugelegak, sambil kulepas CD-ku. Mbak Wati terus mendesis-desis dan bergetar-getar tubuhnya. Kami bergumul berguling-guling. Kutekan-tekan selangkangannya dengan zakarku.

Bersambung…

Keyword Cerita Dewasa

  • ceritangentot2016
  • Cerita Dewasa ngentot setengah baya
  • cerita seks selingkuh 2016
  • Cerita Dewasa ngentot wanita paruh baya
  • Cerita Panas Setengahbaya
  • cerita ngentoti wanita paruh baya lg nyuci
  • vagina paruh baya
  • Cerita Sex pembantu setengah baya
  • cerita setengah baya tak sengaja terbaru
  • cerita vagina

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *