Cerita Dewasa - Pengalaman Seks Lewat Email

Cerita Dewasa – Pengalaman Seks Lewat Email

Posted on

Cerita Dewasa – Pengalaman Seks Lewat Email | Dulu aku pernah mengirimkan cerita seks kepada pihak ternyata ada respon dari team untuk menghubungiku lewat email, ternyata aku mendapat respon dari beberapa wanita yang membaca kisahku pornoku, diantaranya yang diberitahu kepadaku adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di makasar.

Cerita Dewasa - Pengalaman Seks Lewat Email Cerita Sex Dewasa SedarahCerita Dewasa – Pengalaman Seks Lewat Email | Namanya Revi (nama samaran) pastinya, disini aku berkomunikasi lewat email, kami berkenalan lebih dekat dengan menanyakan usia dan tempat tinggalnya, kami bahakan unutk saling tukar pengalaman dalam bercinta. Saya masih ingat, waktu itu sekedar iseng membuka inbox emailku kalau-kalau ada email yang masuk.

Tepatnya 4 Juni 2014, kucoba klik dan ternyata ia mengajakku kenalan. Akupun mencoba membalasnya sesuai janjiku pada setiap kisah porno yang kukirim, meskipun kalimatnya ala kadarnya yang penting tidak mengecewakan bagi pengirimnya. Apalagi namanya menunjukkan nama seorang wanita, sehingga pasti kuusahakan menyapanya.

Cerita Dewasa – Pengalaman Seks Lewat Email | Hanya dalam tempo 24 jam kemudian, email itu kembali muncul di kotak emailku dan isinya menunjukkan ada keseriusan mau kenalan lebih jauh denganku. Akupun semakin menunjukkan keseriusan mau kenalan dengannya, apalagi setelah kuketahui kalau ia tinggal tidak terlalu jauh jaraknya dari kota tempat tinggalku. Kami hanya beda kota kabupaten, tapi ada dalam satu wilayah propinsi Sulsel. Balas membalas email antara aku dan Revi boleh dibilang cukup lancar.

Bayangkan saja sejak 4 Juni 2014 hingga saat ini, Revi tidak pernah alpa mengirim email padaku dan tentu saja sebaliknya aku tidak pernah alpa membalasnya secara otomatis pada saat itu juga. Sampai-sampai kami membuat kesepakatan untuk buka dan kirim email setiap hari Senin, Rabu dan Jumat (3x seminggu). Banyak pengalaman dan informasi yang kami tukar.

Cerita Dewasa – Pengalaman Seks Lewat Email | Mulai dari asal usul, pengalaman sex, ciri-ciri dan keinginan sex kami masing-masing serta jadwal pertemuan kami di kota makassar. Bahkan kami saling menginformasikan mengenai alat sensitif kami secara jujur, yang akhirnya saya kirimkan foto berkat pengajaran dari Revi soal cara mengirim foto lewat email, sebab saat itu saya masih awam dalam hal kirim mengirim foto lewat email.

Tidak kurang dari 25 kali kami saling membalas email, hingga sampai puncaknya pada tanggal 7 Oktober 2014, di mana kami betul-betul serius mau melakukan pertemuan secara langsung dan sekaligus memperaktekkan tentang pengalaman dan kebutuhan sex kami masing-masing. Saya tidak pernah yakin kalau perkenalan lewat email itu bisa mempertemukan kami secara langsung, apalagi jarak antara kota saya dengan kota tempat tinggal Revi sekitar 200 km lebih.

Namun kenyataan menunjukkan bahwa janji dan keinginan sex kami bukan hanya isapan jempol dan teori saja, melainkan kami betul-betul berhasil bertemu muka, bahkan melakukan praktek bersama di salah satu wisma di Makassar. Bagi Revi mungkin tidak terlalu sulit menemukanku di terminal setelah kami janjian ketemu di salah satu tempat di kompleks terminal Panaikan sebab dia telah menerima fotoku lebih dahulu yang kukirim lewat email.

Tapi bagiku menemukan orang yang belum pernah kulihat sebelumnya, apalagi ciri-cirinya tidak sempat menjelaskan secara rinci di emailnya, tentu sangat sulit, sebab selain aku belum banyak pengalaman di kota Makassar, termasuk di terminal Panaikan, juga terlalu banyak wanita muda yang berkeliaran, apalagi aku belum yakin 100% atas janjinya mau menemuiku di terminal itu. Tapi aku tetap bertekad untuk ke Makassar siapa tahu bisa jadi kenyataan, kalaupun ia permainkan aku, kuanggap hal itu sebagai pengalaman buatku.

Jam 7.00 pagi saya sudah naik mobil dan berangkat meninggalkan rumah tempat tinggalku menuju kota makassar dengan alasan sama istriku bahwa ada urusan bisnis penting selama sehari di Makassar agar ia izinkan aku berangkat. Namun karena berbagai hambatan diperjalanan, maka aku terlambat 1 jam tiba di terminal sebagaimana rencana yang kusampaikan Revi semula.

Sebelum aku turun dari mobil tumpanganku, aku tiba-tiba gemetar dan merasa takut kalau-kalau dia lebih dahulu memperhatikanku dan aku juga diliputi rasa was-wasa jangan-jangan dia mau menjebakku dengan membawa pasukannya atau teman laki-lakinya ke terminal serta berbagai macam dugaan yang muncul dibenakku. Mataku mulai membelalak sejak mobil belok ke kanan dan berhenti di depan loket pembayaran retribusi hingga memasuki pelataran parkir.

Aku turun dan membayar sewa mobil sambil berusaha tersenyum sendirian dengan perasaan tidak menentu kalau-kalau dia telah memperhaRevinku. Akibat konsetrasiku mencari seorang gadis muda yang sedang bingung mencari seseorang, maka hampir aku kecolongan memberi uang kepada orang lain yang tidak kukenal.

Untung saja orang itu tidak segera mengambil uang yang kusodorkan itu, sebab ternyata yang kuserahkan sewa mobilku bukan sopir mobil itu, melainkan orang lain yang kebetulan mencari muatan buat mobilnya. Ini gara-gara terlalu gembira mau ketemu dengan seorang gadis yang belum tentu datang ke terminal itu, apalagi bodi dan ciri-ciri pakaiannya belum jelas sama sekali.

Kejadian itu pasti tidak pernah terlupakan seumur hidupku. Sekitar 20 m aku bolak balik dari pelataran paling bawah ke pelataran paling atas di terminal itu, bahkan hampir semua warung dan tempat duduk-duduk para penumpang bis aku intip tanpa ada rasa segan, meskipun aku tetap agak malu kalau-kalau ada penumpang dari kotaku asalku yang mengenal dan memperhaRevinku, yang bisa saja melaporkan sikapku itu pada istriku nanti.

Setelah capek keliling, akhirnya aku putuskan untuk masuk wartel lalu menghubungi HV-nya, sebab lewat emailku sebelumnya aku telah berpesan agar tidak dimaRevin HV-nya hari itu. Halo, Revi yah? di mana kamu sekarang? aku ini ada di terminal mencarimu sejak tadi demikian kata saya melalui telepon. Halo, betul ini Revi. Saya ada di kampus sekarang lagi makan siang ama teman-teman di warung kampus nih.

Tunggu aja di situ yah, aku akan segera meluncur ke sana, tapi tepatnya kamu nunggu di mana yah? itulah jawaban Revi saat itu seolah menunjukkan keseriusannya mau ketemu denganku. Oke sayang, aku akan setia menunggumu di depan wartel belakang pos pungutan retribusi masuk, sudah ngga tahan nih mau ketemu denganmu demikian jawaban singkat saya saat itu.

Hampir setiap mobil, terutama petek-petek dan taxi kuamati isinya dan penumpang yang turun kalau-kalau ia naik kendaraan itu, meskipun sesekali juga kuperhatikan motor yang lewat jangan sampai ia naik motor. Hanya dalam waktu sekitar 20 menit kemudian, aku tiba-tiba mendengar suara panggilan dari sebelah kiri di mana aku duduk dengan sedikit tertahan, Halo-halo, eh-eh, ternyata suara itu adalah berasal dari seorang gadis muda yang sedang menjinjing tas mahasiswa, yang nampaknya diarahkan padaku.

Akupun segera berbalik ke arahnya, namun ia segera berjalan berputar di samping mobil yang ada di belakangku. Walaupun sedikit ragu, tapi keyakinanku lebih besar mencurigai kalau wanita itu adalah Revi yang sejak tadi aku tunggu, aku cari dan aku idam-idamkan selama ini.

Sambil mengikuti langkah kakinya, getaran jantungku semakin dag dig dug, dan tiba-tiba ia membalikkan wajahnya sehingga kami berhadap-hadapan dan saling menatap sejenak di tengah-tengah keramaian penumpang yang ada di terminal itu, hanya 30 cm jaraknya. Kamu Adit khan katanya dengan suara yang lembut. Yah, dan kamu Revi khan aku balik bertanya dengan mengarahkan telunjukku pada wajahnya sambil kami tersenyum.

Entah apa yang bergejolak di pikirannya saat itu, tapi yang jelas aku rasanya ingin langsung memeluk tubuhnya, untung segera kusadari kalau tempat ini dihuni oleh banyak orang, yang tidak mustahil ada yang mengenal kami. Tanpa banyak basa basi lagi, ia segera naik mobil petek-petek dan akupun segera mengikutinya bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya.

Di dalam mobil, kami banyak membicarakan soal ketidakpercayaan kami atas pertemuan ini, bahkan pengakuannya ia sedikit agak kesal dan hampir putus asa menunggu sejak pukul 10.00 pagi tadi di terminal sesuai informasi yang telah kusampaikan, namun aku berkali-kali minta maaf atas keterlambatan tiba di terminal mobil yang kutumpangi itu.

Dari 2x pindah petek-petek menuju wisma yang telah ia janjikan dalam emailnya, kami tidak pernah kehabisan bahan bicara, bahkan kami duduk sangat rapat, sehingga anginpun sulit melewati perantaraan duduk kami. Tubuh kami seolah melengket pakai lem tanpa ada perasaan malu sedikit pun dari penumpang lainnya. Dalam hati saya biar mereka memperhaRevin kami toh mereka tidak mengenal kami.

Kami bagaikan suami isteri yang baru ketemu setelah sekian lamanya berpisah. Betul-betul saling melepaskan kerinduan. Sekitar 30 m dari wisma yang kami tuju, Revi tiba-tiba menghenRevin mobil lalu turun dan akupun mengikutinya. Maklum aku belum banyak kenal kota Makassar.

Meskipun aku tetap selalu berusaha untuk membayar sewa petek-petek setiap turun, tapi selalu saja Revi mendahuluiku atau aku kalah cepat membayarnya. Sebagai seorang pria, akupun merasa berat dan malu, tapi Revi nampaknya betul-betul mau membukRevin janjinya untuk memberikan layanan 100% jika aku datang menemuinya di Makassar.

Rencana pertemuan kami di kota Makassar betul-betul sudah sangat matang, sebab kami telah membeberkan kelemahan dan keterbatasan kami masing-masing lewat email, namun kami tetap saling berjanji akan menerima apa adanya, yang penting tujuan kami hanya satu yaitu saling memberi kepuasan sex sesuai kemampuan dan pengalaman serta keinginan kami masing-masing.

Pekerjaan, keuangan dan penampilan, bahkan usia, kami telah sepakat untuk tidak mempersoalkannya. Demikian seriusnya Revi mau menyenangkan diriku, sehingga ia siap membantu membayar sewa kamar wismanya dan siap memberikan tubuhnya sepenuh hati buatku serta mengorbankan perasaannya demi kebahagiaanku nanti.

Bahkan kami telah janjian untuk saling menjilati kemaluan dan mencukur bulunya sebelum pertemuan, sampai-sampai ia memberitahukan jadwal tamu bulanannya agar kedatanganku nanti tidak bertepatan agar ia dapat melayaniku 100%. Sebelum kami masuk wisma tersebut, Revi menyempatkan diri membeli aqua besar untuk keperluan dalam kamar nanti. Entah buat minum atau apa saja yang membutuhkan air.

Setelah membayarnya, Revi meminta aku membawa air itu dan apapaun rasanya diperintahkan oleh Revi saat itu pasti kuturuti karena keseriusannya melayaniku, padahal Revi adalah seorang gadis muda, mulus, berkulit putih dan menggairahkan bagiku, apalagi seorang mahasiswi. Sementara aku termasuk sudah setengah baya yang berkulit hitam dan keriput, punya istri dan 3 orang anak lagi.

Siapa tidak bahagia dan mangga berteman, apalagi bercinta dengan wanita seperti Revi itu yang ikhlas berkorban untuk kesenangan aku. Rev, apa wisma ini cukup aman buat kita? dan apa selama ini ngga sering-sering dirazia oleh petugas? tanya saya pada Revi saat kami barengan masuk pintu wisma itu sambil mengawasi di sekelilingnya.

Ngga taulah, sebab baru satu kali aku ke sini sewaktu pacarku membawaku dengan tujuan yang sama sampai aku tahu tempat ini, dan itupun sudah lama jawabnya sambil menceritakan soal peristiwa persenggamaannya dengan pacarnya tempo hari di wisma tersebut. Mudah-mudahan aja ngga terjadi apa yang kita khawatirkan katanya lebih lanjut.

Selesai kami lihat tarif dan kamar yang kosong pada serlembar kertas di atas meja pelayanannya, Revipun membuka dompetnya dan aku usulkan untuk gabung saja biar lebih ringan pembayarannya. Waktu itu, kami hanya membayar Rp. 55.000 untuk 6 jam, sebab nampaknya kamar lainnya penuh semua, dan kupikir 6 jam itu cukup lama buat kami yang tidak rencana menginap. Bisa kami selesaikan beberapa ronde.

Tepat pada jam 2.00 siang, kami telah masuk di wisma yang tidak perlu saya sebutkan namanya itu. Setelah kami bayar, kami lalu naik ke lantai dua mengikuti petugas wisma dan masuk ke sebuah kamar yang dilengkapi dengan air minum, kamar kecil, TV color 14 inc dan sprinbad yang cukup besar ukurannya.

Setelah petugas keluar dari kamar, tinggallah kami berdua dalam kamar. Revi menutup dan mengunci rapat pintu kamarnya lalu menutup semua gorden, lalu masuk sebentar ke kamar kecil lalu berbaring di atas rosban dengan pakaian masih lengkap.

Sedangkan aku terlebih juga lebih dahulu masuk kamar kecil buat buang air, lalu ikut berbaring disamping Revi. Sambil berbaring dengan pakaian masih lengkap, kami bincang- bicang dan saling mengutarakan rasa kerinduan kami selama ini.

Tanpa aku sadar, tangan kananku sudah memeluk tubuh Revi dan Revipun tampaknya tidak segan-segan lagi membalas pelukanku, sehingga kami saling berpelukan dalam keadaan berbaring menyamping. Aku sangat merindukanmu sayang, ingin sekali memelukmu ucapanku sedikit berbisikketika wajah kami sudah saling menyentuh sehingga napas kami sudah saling beradu.

Aku juga sangat rindu padamu suamiku, mari kita lepaskan kerinduan kita jawabnya sambil memasukkan lidahnya dalam mulutku, sehingga kami saling mengisap, saling bergumul dan memainkan lidah dalam mulut kami masing-masing.

Permainan mulut dan lidah kami berlangsung semakin rapat dan cukup lama, sampai kami merasa terengah-engah akibat kecapean mengisap. Bahkan aku lupa mandi sesuai kesepakatan kami semulaketika kami saling berhadap-hadapan di tempat tidur itu.

Demikian serunya permainan mulut kami, sehingga tidak ingin rasanya ada istirahat sejenak dan melewatkan kesempatan sedetikpun dalam kamar itu mumpung masih sempat. Sambil bermain lidah, saya mencoba memasukkan tangan kananku ke dalam baju kain Revi hingga masuk ke dalam BH-nya yang ukurannya cukup sederhana.

Sebagai seorang gadis yang jam terbangnya dalam dunia sex masih cukup terbatas bila dibanding dengan jam terbangku, tentu ia tidak tahan lama dipermainkan payudaranya, apalagi saya remas-remas kedua payudaranya dengan lembut dan sesekali menindis-nindis putingnya yang mulai mengeras dan menonjol itu.

Ia tidak mampu lagi sembunyikan kenikmatan yang ia rasakan dan terasa ia mulai terangsang, yang sangat kedengaran dari suaranya yang mengerang-erang kecil.

Utungnya tidak ada orang yang dekat dengan kamar itu, sebab memang kamar itu berada dibagian paling depan dan disudut wisma sehingga kami leluasa bersuara agak keras sebagai tanda kenikmatan yang kami alami.

Ngga mau mandi dulu Kak? katanya mengingatkanku, karena kebetulan aku keringatan akibat perjalanan jauh dari daerah tadi. Nantilah, setelah kita bermain-main dulu, biar kita lebih lama bercumbu rayu jawabku sambil tetap memainkan lidah ke dalam mulutnya dan meremas-remas teteknya yang montok itu.

Namun karena ia nampaknya sudah sangat terangsang, ia tiba-tiba melepaskan pelukannya dan mengeluarkan lidahku dari dalam mulutnya lalu duduk sambil satu demi satu ia buka kancing bajunya hingga terlepas dari badannya.

Aku hanya mampu menatap indahnya tubuh seorang gadis mahasiswi. Mulus dan putih, namun sedikit agak gemuk sebanding dengan gemuk tubuhku, meskipun ia sedikit pendek dari ukuran badanku. Warna kulit kami sangat kontras karena kulitnya putih sementara kulitku agak hitam.

Setelah ia melepaskan baju kain yang dikenakannya, ia lalu kembali berbaring. Akupun melepaskan baju lengan panjang yang kukenakan seperti halnya pagawai kantoran saja. Kami kembali berpelukan dan bergumul di atas kasur yang empuk. Kali ini aku menindihnya meskipun ia masih mengenakan BH warna putih, sementara aku masih mengenakan baju dalam.

Namun hal itu tidak sampai bertahan lama, sebab aku tidak tahan lagi mau segera melihat isi dalam BH-nya, sehingga aku lepaskan kaitnya dari belakang lalu meremas-remas secara bebas dengan kedua tanganku, bahkan segera kujilati dan mengisap-isap putingnya yang agak bulat dan sedikit membesar.

Sehingga ia kegirangan seolah ingin teriakketika aku maju mundurkan mulutku pada putingnya, yang kedengaran bunyinya akibat air liurku yang membasahinya. Tanpa aba-aba dari Revi, sayapun segera merosot rok panjang yang dikenakannya, lalu kugigit-gigit dan kutusuk-tusuk kemaluannya dari luar celana dalamnya.

Dari luarnya menggambarkan kalau daging yang terbungkus CD-nya itu sangat montok dan kenyal serta sedikit mulai basah. Aku tak mampu lagi bertahan menjilatinya dari luar, sehingga aku segera saja menariknya keluar lewat kedua kakinya.

Ternyata dugaanku benar, di antara selangkangan Revi terdapat seonggok daging yang cukup empuk dengan tonjolan daging mungil antara kedua belahannya Nampah warnanya agak kemerahan dan kulit disekelilingnya juga berwarna putih seolah baru saja dicukur bulu-bulunya sesuai permintaanku dalam emailku sebelum pertemuan.

Kini Revi dalam keadaan bugil penuh sambil baring dengan merenggangkan kedua paha yang menjepit daging empuk itu. Tanpa aku tatap lama-lama, aku segera menjulurkan lidahku menelusuri daging empuk yang terbelah dua itu.

Nampaknya aku tidak terlalu sulit masukkan lidah ke lubang tengahnya itu, karena memang sudah beberapa kali ditusuk dan dimasuki benda tumpul sebelum kami sebagaimana pengakuannya lebih dahulu padaku lewat emailnya bahwa ia telah beberapa kali berhubungan sex dengan pacarnya, namun tidak sampai memuaskannya. Semakin lama semakin kupercepat gocokan lidahku kedalam Memeknya sehingga mengeluarkan bunyi seperti kucing yang menjilat air.

Revi semakin histeris dan menggerak-gerakkan pinggulnya serta dia mengangkat tinggi-tinggi kedua kakinya hingga ujungnya bersentuhan dengan bahunya sambil tetap merenggangkannya. Aku semakin leluasa memasukkan lidahku lebih dalam dan memutar-mutarnya sehingga terasa Memek Revi semakin mengeluarkan cairan yang membasahi seluruh dinding lubang Memeknya.

Aduh.. Kak.. enak sekali Kak.. terus Kak.. aahh.. uhh.. mm.. hanya suara itulah yang berulang-ulang keluar dari mulut Revi ketika aku menggerak-gerakkan ujung lidahku pada lubang Memeknya. Kamu merasa enak sayang? Bagaimana sekarang? Saya masukkan saja? pertanyaan saya sambil kupermainkan lidahku dalam lubangnya.

Auh.. hee, ohh.. ehh.. mm.. Suara itu semakin menaikkan rangsanganku sehingga akhirnya aku secara berturut-turut membuka celanaku satu demi satu dengan dibantu oleh Revi sampai tubuhku sudah telanjang bulat. Kini kami saling bugil dan aku sedikit mundur persis di belakang pantatnya sambil berlutut dan mengarahkan ujung kontolku pada memek Revi yang sudah basah dan sedikit terbuka itu.

Sebelum aku sempat menusukkan ujung Penisku ke lubang memek Revi, Revi terlebih dahulu meremas dan mengocok-gocok dengan tangannya sehingga aku semakin tidak tahan lagi bermain-main di luar. Kini senti demi senti kudorong ke depan hingga ujung kemaluanku pas tertuju pada lubang kemaluannya.

Revi hanya membantu dengan kedua tangannya membuka kedua bibir memeknya itu, sehingga kontolku dapat menembus lubang memeknya dengan mudah. Aku mengangkat tinggi-tinggi kedua kakinya hingga ujungnya berada di atas kedua bahuku.

Kurasakan kontolku masuk menyelusup ke dalam memeknya Revi tanpa suatu kesulitan yang berarti hingga seluruhnya amblas. Revi semakin mengerang dan napasnya terengah-engah bagaikan orang yang lari dengan kencangnya.

Suara dan napas kamipun saling memburuh, sekujur tubuh kami dibasahi oleh keringat. AC di kamar itu nampaknya tidak terasa pengaruhnya. Revi menarik pinggulku dengan keras dan akupun menekan kontolku ke dalam memeknya juga dengan keras sehingga peraduan antara kontolku dengan memeknya semakin dalam dan kencang.

Genjotan kontolku semakin kupercepat sampai-sampai peraduan paha kami menimbulkan suara cukup besar. Kami sempat memperhaRevin gerakan-gerakan kami itu di cermin besar yang ada di samping tempat tidur, yang diselingi dengan suara TV 14 inch yang sengaja kami keraskan suaranya agar tidak sampai orang curiga atas perbuatan kami dalam kamar.

Keringat yang membasahi tubuh kami semakin bercampur, sehingga terasa tubuh kami saling lengket. Revi nampaknya tidak puas dengan posisi di bawah, iapun segera mengeluarkan kontolku dari dalam Vaginanya lalu merobah posisi.

Ia dengan sigapnya mengangkangiku lalu memasukkan kembali kontolku dalam Vaginanya lalu ia dengan cepatnya menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kenan, ke bawah dan ke atas, sehingga aku semakin sulit menahan lahar hangat yang tertampung dalam Penisku.

Bahkan ia menawarkan padaku untuk membalikan tubuhnya membelakangi wajahku agar ia dapat dengan jelas mengamati gerakan-gerakan kami lewat cermin, namun aku menahannya agar tidak mengeluarkan lagi kontolku dari dalam Vaginanya sebab terasa aku sudah sangat mendesak ingin muncratkan spermaku.

Mungkin pengaruh capek habis naik mobil dari jauh barusan, sehingga aku betul-betul kecapean dan sulit lagi mempertahankan gejolak sperma yang memaksa ingin keluar.

Tanpa seizin Revi, spermaku kutumpahkan dalam Vaginanya meskipun aku masih terus memompa memek Revi dari bawah dan mengikuti gerakan Revi hingga betul-betul kontolku keluar dengan sendirinya karena kehabisan cairan dan tenaga.

Istirahat aja dulu Kak kalau capek, saya ngerti kok Kakak ini terlalu capek habis naik kendaraan hampir seharian kata Revi dengan bijaksana sambil turun dari atasku lalu berbaring di sampingku. Ia nampaknya tidak kecewa dan cukup mengerti atas keadaanku, sebab masih banyak kesempatan untuk mengulangi permainan kami sebentar.

Apalagi sebelum kami melakukan semua itu, ia pernah berjanji akan memuaskanku dan ia tidak bakal kecewa atas keterbatasanku serta tidak terlalu menuntut untuk dipuaskan jika aku tidak mampu. Mendengar kata-kata Revi itu, aku merasa malu dan tidak tau harus berbuat apa, sebab janji yang pernah kuucapkan pada emailku untuk memuaskannya, ternyata tidak mudah aku jadikan kenyataan.

Entah, apa aku yang terlalu lemah dan loyo atau Revi yang terlalu kuat dan tidak mudah mencapai puncak kenikmatan seperti yang pernah disampaikanku lewat email bahwa sudah beberapa kali ia bersetubuh dengan pacarnya tapi ia tidak pernah merasakan puncak kenikmatan sex.

Apalagi usiaku jauh lebih tua di atas 10 tahun dari usianya, sehingga seharusnya aku perlu obat penambah kekuatan dan daya tahan untuk mengimbanginya. Namun aku terlalu ceroboh dan kurang memperhitungkannya, sehingga aku terpaksa KO lebih awal sebelum ia ada tanda-tanda akan puas.

Aku terlalu mengandalkan pengalamanku yang mempunyai jam terbang lebih banyak dari dia, apalagi selama ini hampir semua wanita yang kusetubuhi merasa KO lebih dulu karena kemampuanku dalam merangsang. Maaf yah sayang, aku terlalu capek dari daerah, seharusnya istirahat lebih dulu sebelum kita berperang di atas kasur ini kata saya untuk memberi alasan agar ia tidak putus harapan.

Nga apa-apa kok Kak, saya khan tidak terlalu berharap dari Kak untuk dipuaskan, sebab saya hanya mau melihat Kakak puas dan bahagia bersamaku apalagi saya memang tidak mudah mencapai kepuasan sex Kak jawabnya dengan sedikit tersenyum tanpa ada rasa kecewa sedikitpun diwajahnya. Kakak janji, ronde kedua nanti, akan kuusahakan agar Adik bisa juga merasakan nikmatnya sex.

Saya malu dan tidak mau dikatakan hanya mementingkan diri sendiri, apalagi pasti akan membuat kenangan buruh dihati adik sepanjang masa, kita istirahat sejenak aja dulu Dik begitulah ucapan saya pada Revi mencoba memberi harapan yang besar.

Setelah aku ke kamar mandi membersihkan kemaluanku, saya kembali berbaring disamping Revi dan berusaha merayu, memeluk dan mencium bibir dan keningnya serta mengelus-elus puting susunya. Tiba-tiba aku teringat pada vitamin yang sengaja kubawa dari daerah sebagai obat yang dapat mengembalikan kondisi tubuh, khususnya bagi yang berusia lanjut.

Aku bangkit dari tempat tidurku, lalu menelannya 2 biji, lalu kembali berpelukan dengan Revi di atas kasur empuk itu. Ternyata tidak sia-sia, hanya dalam beberapa menit saja, saya mulai terasa mengeras kembali, apalagi setelah dipegang-pegang oleh Revi. Yuk, kita mulai lagi kataku sambil tersenyum pada Revi.

Apa Kakak sudah siap lagi? Istirahat aja dulu sebentar Kak, waktu kita masih ada beberapa jam lagi di wisma ini katanya seolah tidak mau memaksa kemampuanku. Sambil berkata begitu, Revi mulai meremas-remas kontolku dan nampaknya ia juga sangat menginginkan hal itu.

Revi segera bangun dan kembali mengangkangi tubuhku lalu mencoba memasukkan kontolku ke dalam memeknya yang masih basah karena belum dicuci. Ia sengaja saya minta agar lebih aktif dari aku, karena aku masih agak kecapean. Kontolku yang sudah mengeras kembali itu tidak terlalu sulit dimasukkan sampai seluruhnya amblas ke dalam lubang memeknya.

Revi pun mulai menggenjot terus dan kembali menimbulkan bunyi khas, bahkan kali ini ia berbalik membelakangi wajahku sehingga ia tertawa kecil melihat gerakannya pada cermin di sudut kamar itu. Setelah ia puas memandangi posisi kami, Revi lalu turun dan mencoba nungging di depan saya.

Saya pun mengerti maksudnya. Berkali-kali aku arahkan ujung Penisku pada memeknya yang agak sedikit menganga dari belakang, tapi selalu saja mengenai lubang duburnya, sehingga ia menegurku karena merasa kesakitan.

Mungkin Revi atau saya yang kurang cocok dengan posisi itu, sehingga kami tidak jadi menerapkan posisi nungging itu, melainkan Revi kuminta berbaring terlentang lalu aku kembali menindihnya dan memasukkan kontolku dengan mudah lalu menggenjotnya dengan lebih keras dan cepat. Kali ini berlangsung agak lama daripada ronde pertama tadi. Ngomong ya Kak jika kau mau muncrat supaya aku tahu katanya berbisik.

Yah sayang, tapi masih jauh rasanya jawabku singkat. Peluh kami mulai bercucuran dan basah sekali sekujur tubuh kami. Walaupun aku telah berusaha menahan spermaku untuk tidak terlalu cepat keluarnya, namun tetap saja Revi belum ada tanda-tanda akan mencapai puncaknya.

Auh.. iihh.. eehh.. aahh.. uuhh.. itulah suara-suara yang menyertai gerakan pinggul Revi ketika aku semakin mempercepat gerakan pantatku menekan pnisku masuk lebih dalam lagi. Sementara aku tetap berusaha untuk tidak mengeluarkan suara meskipun aku merasakan suatu kenikmatan yang luar biasa dibanding aku bersetubuh dengan istriku.

Bagaimana sayang, masih jauh? Aku sudah mulai mau keluar nih, nga apa-apa khan saya keluarkan di dalam saja? kataku berterus terang. Silakan Kak, aku sudah makan obat pengaman, ngga bakalan hamil kok, ibuku khan bidan, jadi mudah kudapatkan obat seperti itu katanya meyakinkanku.

Tidak seberapa lama kemudian, akupun muncrat dalam vaginanya dan kali ini Revi merasakannya dengan denyutan kontolku.

Aku tetap berusaha menahan kontolku dalam memeknya, sehingga ia merasa hampir mencapai puncaknya. Kak, kayaknya aku sudah mau keluar nihh, auhh, mm.. hh Katanya sambil terengah-engah dan bersuara agak keras.

Bagaimana, sudah hampir sayang? Saya capek sekali nih kataku terus terang mengalah, sebab kontolku sudah mulai loyo dan kehabisan tenaga sehingga sulit sekali bertahan di dalam. Kontolku dengan sendirinya keluar dari dalam memek Revi, sehingga kamipun berhenti bergoyang, nampun Revi tetap tidak menunjukkan kekecewaan dan putus asa di wajahnya.

Aku telah merasa sedikit lebih puas dari ronde pertama tadi atau mungkin tadi aku udah muncrat tapi aku ngga mengetahuinya demikian katanya seolah bahagia dan senang atas pertarungan kami di ronde ke-2.

Kita masih punya waktu sekitar 3 jam lagi di kamar ini sayang, mudah-mudahan kita masih bisa lanjutkan ke ronde yang ke 3, kita habiskan saja semua sisa-sisa kemampuan kita di tempat ini, sebab kapan lagi kita dapat kesempatan seperti ini kataku penuh harap.

Kalau sudah capek dan nga mampu lagi Kak, ngga usah diteruskan dan dipaksakan, khan sudah sama-sama kita merasakan suatu kenikmatan yang cukup, nanti lain kali aja kita bisa lakukan, saya selalu siap kok kapan aja Kakak mau asal beritahu lebih dulu kata Revi dengan santun dan penuh penghormatan serta kasih sayang padaku, sehingga aku merasa tidak enak dan berat padanya.

Kali ini, aku kembali ke kamar mandi membersihkan Penis saya yang berlepotan dengan sperma, dan Revipun menyusul, lalu kami sama-sama mengenakan CD kemudian berbaring sambil berpelukan, bermesraan, bahkan aku berusaha terus merangsangnya, terutama di bagian payudaranya dengan mengisap-isap putingnya dan meremas-remasnya serta mengecup pipinya.

Kami saling bercanda dan bersenda gurau layaknya suami istri yang seolah tidak ada beban dan ketakutan sama-sekali.

Cukup lama kami bermain-main di atas tempat tidur itu tanpa pakaian kecuali CD. Sesekali Revi menyentuh penisku dan meremas-remasnya dari luar CD, sedang aku juga menyentuh dan mengelus-elus vaginanya.

Kak, istirahat saja dan tidurlah, biar lebih segar perasaannya, aku rasanya ngga capek dan nga ngantuk katanya merayuku berkali-kali agar aku berusaha tidur. Tapi aku selalu takut kalau-kalau ia meninggalkan aku sendirian dalam kamar itu, sehingga mataku juga tidak mau tertidur apalagi sulit lagi kami dapatkan kesempatan emas seperti ini.

Entah pengaruh dari mana, tapi yang jelas tiba-tiba kontolku kembali tegang dan bergerak-gerak dalam CD-ku, sehingga dirasakan pula oleh Revi yang sedang berbaring di bagian bawah perutku. Mungkin akibat vitamin yang kutelan tadi atau karena senda gurau kami yang terlalu asyik. Revi tiba-tiba bangkit dan duduk di sampingku sambil tertawa.

Wah, ternyata bangun lagi Kak, apa Kakak masih siap melanjutkannya untuk ronde yang terakhir sebelum kita keluar dari wisma ini kak? tanyanya dengan tersenyum dan nampak ia gembira melihat reaksi itu.

Boleh saja, tapi isap dulu donk biar lebih keras dan membesar lagi agar dapat bertahan lebih lama jawabku dan meminta ia lebih aktif. Ayolah, mari kita coba mulai katanya terburu-buru sambil membuka CD-ku dalam keadaan aku tetap terlentang.

Hangat dan nikmat sekali. Ahh.. usst.. oohh.. aduhh.. eenakk sekali sayang.. begitulah eranganku berkali-kaliketika Revi meraih dan memasukkan kontolku ke dalam mulutnya lalu menggocok-gocoknya dengan mulut. Setelah aku merasa kontolku cukup keras dan membesar lagi dalam mulut Revi, aku dengan segera bangkit dari tidurku lalu menarik celana dalam Revi hingga keluar semuanya.

Kali ini aku tarik Revi berbarik sambil miring sehingga kami berhadap-hadapan, lalu aku coba mengangkat satu pahanya ke atas dan memasukkan pahaku ke dalam selangkangannya, lalu menusukkan kontolku ke lubang memeknya hingga amblas seluruhnya.

Beberapa menit kami dalam posisi seperti ini sambil kami menggerak- gerakkan pantat maju mundur, akupun mengangkat Revi ke atasku sehingga ia menindihku tanpa melepaskan kontolku dari kemaluannya.

Kali ini Revi dengan keras dan cepatnya menggoyangkan pinggulnya maju mundur dan kiri kanan, bahkan ia menarik kepalaku ke atas sehingga kami setengah duduk lalu duduk dengan meletakkan kedua pahanya di atas kedua pahaku, lalu pinggul kami bergerak seirama seolah kami saling mendorong dan menarik.

Kami tidak mengubah lagi posisi hingga kami sama-sama mencapai puncak kenikmatan, meskipun aku yakin jika Revi belum mencapai kenikmatan sex 100%, tapi ia mengaku telah merasa puas merasakan kenikmatan sex yang belum pernah ia alami sebelumnya.

Selesai membersihkan badan dan berpakaian lengkap, kami saling mengecup dan ciuman sebagai tanda terima kasih sekaligus perpisahan sementara karena aku mau pulang ke daerah asalku. Kami berjanji akan mengulangi lagi setiap ada kesempatan.

Keyword Cerita Dewasa

  • cerita dewasa ngentot tempik gubuk
  • kisah seks selingkuh
  • cerita dewasa 2x apa 3x
  • cerita dewasa sehari beberapa ronde
  • cerita ml mahasiswi mobil di makassar
  • kontol tegang dimasuk memek cewek dewasa

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *